KAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI



KAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI
DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
oleh : Aris Kurniawan, A.Md


Undang-undang No 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan membentuk watak serta peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang  beriman  dan  bertakwa kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak mulia,  sehat, berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan perpustakaan di perguruan tinggi bertujuan untuk menunjang proses pendidikan nasional melalui sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terdapat dalam koleksi perpustakaan, dan turut serta bertanggung jawab untuk mengembangkan dunia ilmu pengetahuan teknologi dan rekayasa serta karakter bangsa.
The library is growing organism perpustakaan adalah organisme yang selalu berkembang, perkembangan perpustakaan sangat berpengaruh terhadap proses transformasi informasi dan ilmu pengetahuan kepada pemustaka. Proses transformasi tersebut diwujudkan dalam berbagai macam jenis  layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan berbasiskan teknologi informasi sekarang ini menjadi perbincangan yang hangat bagi kalangan pustakawan di lingkungan perguruan tinggi dan secara tidak langsung menjadi tolok ukur perkembangan suatu perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan kemudahan yang ditawarkan  oleh teknologi informasi dalam berbagai aspek kegiatan perpustakaan, mempercepat proses penelusuran informasi serta memperkaya jenis layanan perpustakaan sehingga layanan perpustakaan lebih bervariatif.
Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan perguruan tinggi tidak terlepas dari perilaku pemustaka yang sekarang ini cenderung lebih banyak  memanfaatkan internet, netbook, laptop dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Perilaku tersebut merupakan perilaku generasi digital native,  sedangkan Marc Prensky berpendapat “characterized students who grew up with the Internet and are surrounded with digital media  such as computers and mobile phones as “digital natives”. Always  interconnected” ( karakteristik siswa yang tumbuh dengan internet dan selalu dikelilingi dengan media digital seperti komputer dan ponsel disebut dengan digital natives). Tidak bisa dipungkiri mahasiswa sekarang cukup familier dengan pemanfaatan internet dan media digital lain sehingga mahasiswa dikategorikan sebagai generasi digital native.
Kecenderungan pemanfaatan internet oleh mahasiswa dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, bercengkrama serta dalam belajar seolah menjadikan perpustakaan dituntut untuk lebih inovatif dalam mengembangkan layanan. Kecenderungan tersebut menyebabkan mahasiswa lebih tertarik dengan pemanfaatan literatur dalam bentuk digital, hal ini dikarenakan literatur digital lebih fleksibel digunakan serta mudah penyimpanannya. Dengan kata lain civitas akademik di lingkungan perguruan tinggi sudah tidak asing lagi dengan produk-produk  teknologi informasi.
Keberadaan internet tidak lantas akan menggerus eksistensi perpustakaan perguruan tinggi jika perpustakaan tanggap dalam menghadapi tantangan perubahan perilaku dan perkembangan media penyebaran informasi yang beragam, mudah dan cepat. Perpustakaan lambat laun akan benar-benar ditinggalkan oleh pemustakanya jika perpustakaan tidak mengadopsi teknologi informasi ke dalam pelaksanaan kegiatan di perpustakaan. Penerapan teknologi informasi tersebut tidak sekedar hanya untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi serta mengakomodir kebiasaan dari generasi digital natives, lebih jauh lagi adalah berorientasi kepada kepuasan pemustaka.
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan perguruan tinggi tidak semudah membalikkan telapak tangan, hal tersebut dikarenakan perlunya kesiapan dari berbagai aspek di perpustakaan. Kajian yang dilakukan di perpustakaan University of Technology, Akure Library, Ondo State, Nigeria untuk mengevaluasi penerapan teknologi informasi untuk meningkatkan layanan perpustakaan oleh Abdulwahab Olanrewaju Issa, PhD (Dosen Senior, Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Informatika, Universitas Ilorin Kwara State, Nigeria) menyebutkan ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu pendanaan, pasokan listrik dan sumber daya manusia. Penelitian tersebut mengevaluasi secara keseluruhan pemanfaatan teknologi informasi mulai dari penggunaan komputer, mesin fax hingga pemanfaatan dan penelusuran koleksi.

Teknologi Informasi
Istilah "Teknologi Informasi" (TI) telah banyak didefinisikan. Marshall (1984) mendefinisikan sebagai kedatangan bersamaan dari komputer dan telekomunikasi untuk tujuan menangani informasi atau penerapan teknologi untuk penanganan informasi; meliputi pembuatan, penyimpanan, pencarian pengolahan, dan penyebarluasan.
Teknologi informasi adalah  berbagai  aspek  yang  melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik  pengelolaan  yang  digunakan  dalam  pengendalian dan pemprosesan  informasi  serta  penggunaannya;  komputer  dan hubungan mesin  (komputer)  dan manusia;  dan  hal  yang  berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan (British Advisory Council for applied  Research  and  Development:  Report  on  Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980).



Tantangan Teknologi Informasi
Kepuasan pemakai sebagai hasil akhir dari layanan yang diberikan perpustakaan dan atau kinerja pustakawan harus dijawab dengan penerapan teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi perubahan yang ada di perpustakaan harus mampu memberikan kemajuan yang signifikan dalam pengembangan perpustakaan, oleh karena itu perlu adanya strategi untuk menerapkan teknologi informasi dan juga evaluasi. Dalam hal ini strategi informasi merupakan pernyataan terinci mengenai kebijakan informasi yang berisi tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan tindakan-tindakan untuk dilaksanakan dalam periode ke depan yang telah ditentukan.
Strategi informasi merupakan sebuah ‘alat’ yang diterapkan di dalam kerangka sebuah kebijakan informasi organisasi yang didukung oleh sistem dan teknologi yang tepat untuk keperluan: pemeliharaan, pengelolaan dan penerapan sumber-sumber informasi organisasi; mendukung basis pengetahuan yang pentingnya dan semua yang memberikan kontribusi terhadapnya, dengan intelegensi strategis, untuk mencapai tujuan-tujuan kegiatan utamanya. Orna (Henczel,2001: 11) menyatakan bahwa dasar sebuah strategi informasi adalah kebijakan informasi organisasi yang dapat menggambarkan:
1.         Tujuan penggunaan informasi dan prioritasnya dalam organisasi.
2.         Apa arti informasi dalam konteks organisasi yang bersangkutan sesuai dengan keperluan kegiatannya.
3.         Prinsip-prinsip untuk mengelola informasi.
4.         Prinsip-prinsip penggunaan sumber daya manusia dalam mengelola informasi.
5.         Prinsip-prinsip penggunaan teknologi untuk mendukung manajemen organisasi.
6.         Prinsip-prinsip yang akan menerapkan hubungan dalam menetapkan biaya dan efektivitas informasi dan pengetahuan.
Sebuah kebijakan informasi organisasi biasanya memberikan arahan baik bagi para pengelola maupun para pengguna informasi. Bagi para pengelola kebijakan informasi merupakan sebuah kerangka kerja yang berisi prinsip-prinsip organisasi yang berhubungan dengan informasi, penggunaannya dan pengelolaannya. Di antaranya menjamin pengalokasian sumber-sumber informasi penting dalam manajemen informasi. Sedangkan dari perspektif pengguna, kebijakan informasi merupakan sebuah jaminan bahwa organisasi mempunyai komitmen untuk menyediakan informasi yang dibutuhkannya (Henczel, 2001: 11).
Oni (2004) menjelaskan bahwa banyak masalah manajemen harus diatasi sebelum teknologi informasi dapat diterapakan ke dalam perpustakaan yang meliputi:
1.         Pengetahuan tentang tren teknologi terbaru;
2.         Analisis spesifikasi dan kebutuhan perpustakaan;
3.         Penggambaran sasaran perpustakaan dan tujuannya;
4.         Manajemen komitmen dan dukungan dan pendidikan pemustaka yang sedang berlangsung.
Kemudian Oni (2004) membuat beberapa daftar pertanyaan yang harus dibahas dalam setiap pertimbangan untuk menerapkan teknologi informasi, meliputi:
1.         Siapa yang akan menggunakan sistem teknologi informasi tersebut?
2.         Diperkirakan untuk aplikasi apa?
3.         Apakah tersedia anggaran?
4.         Apa manfaat dan keterbatasan sistem teknologi informasi jika digunakan dalam perpustakaan?
5.         Jenis kemampuan apa yang dibutuhkan?
6.         Sumber daya apa yang diperlukan untuk mendukung teknologi ini?
7.         Bagaimana jika sistem tersebut diinterpretasikan ke dalam lingkungan perpustakaan?
Selanjutnya untuk menguji potensi dari penerapan teknologi informasi, sehingga tepat guna dan menguji kemungkinan keberhasilan maka perlu dilakukannya studi kelayakan. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu dalam melakukan studi kelayakan, meliputi
1.         Berapa biaya total untuk sistem tersebut?
2.         Perlukah tenaga terampil dalam melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sistem teknologi informasi?
3.         Apakah vendor memberikan sesi pelatihan?
4.         Bagaimana pembuat keputusan (pemimpin) berpikiran positif atas teknologi baru?
5.         Apakah mendapat dukungan oleh seluruh komponen perpustakaan atau terbatas pada beberapa individu?
Tahapan tersebut diatas merupakan landasan dasar dalam menerapkan teknologi informasi di perpustakaan, dengan harapan penerapan teknologi tidak sekedar asal-asalan dan bisa berfungsi secara optimal.

Kesimpulan
Kemajuan dalam teknologi informasi dan bebasnya arus lalu lintas informasi memungkinkan penerapan belajar yang fleksibilitas di lingkungan perguruan tinggi. Penerapan teknologi informasi dalam perpustakaan tentunya hal ini harus dipersiapkan dengan rencana matang sesuai dengan tata kelola teknologi informasi dan kebutuhan serta manfaatnya. Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan perguruan tinggi tidak terlepas dari perilaku pemustaka yang sekarang ini cenderung lebih banyak memanfaatkan internet, netbook, laptop dalam memenuhi kebutuhan informasinya.





Daftar Pustaka
British Advisory Council for applied  Research  and  Development, (1980).  Report  on  Information Technology. London: H.M. Stationery Office.

Henczel, Susan. (2001)  The information audit: a practical guide. Munchen: Saur.

Issa, Abdulwahab Olanrewaju; Ayodele, Agun Emmanuel; Abubakar, Usman;and Aliyu, Mulikat Bola, (2011).  "Application of Information Technology to Library Services at the Federal University of Technology, Akure Library, Ondo State, Nigeria". Library Philosophy and Practice (ejournal). Paper 576.htp://digitalcommons.unl.edu/libphilprac/576 [diakses: 29.004.2012]

Marshall, C. (1984) Beginner’s Guide to Information on Technology. London: Butterworth & Co (Publishers) Ltd.

Oni, F.A. (2004) Enhancing the Performance of Library Operations through appropriate Information Technology. Technology for Information Management and in Modern Libraries and Information Centers in Developing Countries. Madu, E.C. (ed) Ibadan: EviColeman Publications.

Prensky, M., doc. electr. (2001a). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon 9(5), p. 1–6. http://www.marcprensky.com/writing/Prensky%20%20Digital%20Natives,%20Digital%20Immigrants%20-20Part1.pdf [diakses: 29.04.2012].

S. R. Ranganathan: The Five Laws of Library Science. (1931) Madras Library Association (Madras, India) and Edward Goldston (London, UK).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar